Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin


Pendidikan dalam arti luas merupakan salah satu bentuk ungkapan yang paling utuh dari Spiritualitas Santa Angela. Pendidikan yang diselenggarakan oleh suster-suster Ordo Santa Ursula merupakan upaya untuk mengembangkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya, yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, situasi sekeliling, dan kondisi diri. Mengembangkan kemampuan fisik dan mental, daya juang, pengendalian diri, relasi sosial, keyakinan diri yang bertumpu pada iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian mereka mampu memanfaatkan diri dan semua ciptaan Tuhan secara bijaksana untuk mencapai kebahagiaan diri dan sesama.

Tradisi pendidikan Ursulin bersumber pada Spiritualitas Santa Angela Merici. Ia mendirikan kompani pada tahun 1535 untuk mengangkat martabat gadis-gadis muda agar teguh dalam iman dan berani melawan arus (Saint Jean Martin 1946, 59). Para suster Ursulin meneruskan semangat ini melalui pelayanan pendidikan dengan fokus utama pembentukan kepribadian yang utuh. Pendidikan Ursulin sesuai tradisi, berupaya mengangkat martabat para peserta didik melaui pembentukan pribadi, semangat kekeluargaan, serta semangat kepedulian sosial dan kerasulan.

Pendidikan yang dilakukan di Sekolah Ursulin mengarahkan setiap peserta didik agar memiliki kemampuan untuk menyelaraskan kebudayaan dan iman, serta dapat menjadi ragi Injil di lingkungannya (bdk.Konstitusi, art. 101)

BIARAWATI URSULIN INDONESIA


Misionaris Ursulin pertama mendarat di Batavia (sekarang Jakarta) tanggal 7 Februari, 1856. Mereka datang dari Sittard, Belanda, atas permintaan Mgr P.M. Vrancken, Vikaris Apostolik Jawa. Ketujuh Suster datang dengan kapal, dan jarak Belanda-Batavia ditempuh dalam 140 hari. Perjalanan sangat berat, maka baru 4 hari kemudian, tanggal 11 Februari 1856, Sr. Emmanuel Haris yang sudah sakit, menghembuskan nafas terakhir dan pulang ke rumah Bapa. Keenam suster lainnya segera mulai bekerja. Tugas yang dipercayakan kepada mereka adalah pendidikan anak perempuan. Iklim yang panas dan kerja keras menguras tenaga para suster. Banyak yang jatuh sakit dan meninggal. Kelompok kedua misionaris Ursulin Belanda tiba memperkuat barisan mereka. Sekolah Ursulin pertama didirikan di Noordwijk, sekarang Jalan Ir. H. Juanda. Kendati ada banyak kesulitan, jumlah suster terus bertambah. Tak lama kemudian wanita Indonesia muda yang diilhami oleh kehidupan dan tulisan Santa Angela Merici melanjutkan hidup dan karya yang dirintis oleh para misionaris pertama.

PENDIDIKAN URSULIN INDONESIA


Pada tanggal 18 Januari 1895 para Suster Ursulin memulai sekolah baru di Weltevreden yang sekarang dikenal dengan nama Sekolah Santa Ursula di Jalan Pos No. 2 Jakarta Pusat. Kebutuhan pelayanan pendidikan juga dibutuhkan oleh masyarakat di Jawa Timur. Pastor Martinus van den Elzen, SJ mendesak pimpinan Biara Ursulin di Noordwijk dan Welvtevreden untuk memperluas karyanya ke Surabaya. Permintaan itu baru dikabulkan pada tanggal 14 Oktober 1863 dengan datangnya dua biarawati Ursulin dari Batavia untuk memulai karya di Kepajen, Surabaya. Semangat pelayanan pendidikan di Kepanjen, Surabaya terus berkobar dalam hati para suster dan meluas ke Malang, Jawa Timur. Ide untuk memulai pelayanan pendidikan di Malang berasal dari Sr. Angela Flecken, OSU yang saat itu menjabat sebagai pimpinan Biara Kepanjen, Surabaya. Pada tanggal 6 Februari 1900, tiga orang suster diutus sebagai pionir pelayanan pendidikan di Malang dan memulai karyanya pada tanggal 1 Maret 1900. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pendidikan Ursulin mengikuti kebijakan pemerintah dengan Pancasila sebagai dasar negara. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dihidupi melalui proses pendidikan Ursulin untuk menanamkan semangat cinta tanah air sebagai bangsa Indonesia. Pada tahun 1957 karya pendidikan Ursulin berkembang ke luar Jawa dengan dibangunnya sekolah dan asrama di Ende, Nusa Tenggara Timur. Sekolah Ursulin dipandang sebagai pelopor pendidikan di tanah air dengan tetap menghidupi spiritualitas Santa Angela Merici. Perkembangan karya pendidikan yang kian meluas di Tanah Air membutuhkan peningkatan keterlibatan jumlah kaum awam. Sebagai mitra Ursulin, kaum awam perlu mengenal dan mendalami spiritualitas Santa Angela yang dihidupi para suster agar tradisi pendidikan tetap terpelihara.

REKONFIGURASI


Pelayanan Pendidikan Ursulin berusaha menjawab tantangan dan tuntutan jaman. Pembaharuan dan penataan kembali terus menerus dilakukan dengan menimba inspirasi dari dokumen-dokumen Gereja Katolik tentang pendidikan, keputusan-keputusan Kapitel Umum Ursulin, keputusan kapitel Provinsi, musyawarah-musyawarah Ursulin Indonesia, dan hasil diskusi dengan berbagai pihak. Dalam Musyawarah Ursulin Provinsi Indonesia pada bulan Maret 2012 mulai disadari betapa pentingnya persatuan dan solidaritas di antara yayasan-yayasan penyelenggara pendidikan Ursulin. Kemudian lahirlah kesepakatan tentang gagasan rekonfigurasi struktural dengan membentuk Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin. Kesepakatan ini diputuskan dalam Kapitel Provinsi Indonesia pada bulan Desember 2012 dan ditegaskan dalam Kapitel Umum Ursulin Uni Roma tahun 2013. Diskusi dengan alumni, perwakilan orangtua murid, wakil gereja, dan tokoh masyarakat pada tanggal 14 Agustus 2013 menyatakan bahwa spiritualitas Santa Angela yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kedisiplinan, kejujuran, penghargaan terhadap pluralitas, keberanian untuk melawan arus, dan penghargaan terhadap martabat manusia adalah kekhasan pendidikan Sekolah Ursulin. Nilai-nilai ini harus tetap dilestarikan dan diperbaharui sesuai dengan keadaan jaman agar tetap aktual.

Santa Angela Merici

ANGELA MERICI lahir tahun 1474 di desa DESENZANO, dekat danau Garda yang indah di Italia Utara. Tempat kelahiran Angela terletak di Via del Castello No. 96. Ayahnya bernama Giovani Merici berasal dari Brescia, sedangkan ibunya, Caterina Biancosi dari Salo. Anak mereka ada lima, terdiri dari tiga putera dan dua puteri. Angela anak keempat. Angela dibesarkan di tengah keluarga petani katolik yang saleh. Ia tidak bersekolah. Lingkungan alam yang damai mem-pengaruhi perkembangan kepribadiannya. Ia tumbuh menjadi pribadi yang tenang, damai, dan gembira sebagaimana terungkap dalam tulisannya:

“Lihatlah betapa cinta kasih dan keserasian menjadi tanda yang pasti bahwa seseorang berada di jalan yang benar dan berkenan kepada Allah”. (W 10,12)

Pada masa kecil, ayahnya sering membacakan riwayat hidup orang-orang suci, di antaranya St.Ursula, perawan martir. Hal ini membentuk kepribadian Angela yang rela berkorban demi Allah dan sesamanya. Kelak, pada bab mengenai penerimaan anggota, Angela menulis, ”Siapa saja yang berhasrat memasuki atau diterima dalam kompani haruslah seorang perawan, dan memiliki tekad yang teguh untuk mengabdi Allah ...” (R 1, 1-2) Ketika rumah di Desenzano menjadi terlalu sempit untuk mereka bertujuh, ayahnya membeli sebidang tanah pertanian, tak jauh dari danau Garda. Tempat itu disebut “Le Grezze” artinya “Tempat merumput domba”. Ada kemungkinan bahwa Angela tinggal di sini sampai ia berusia 17 atau 18 tahun, yaitu sampai pada waktu ia pergi ke Salo, sesudah kakak, ibu, dan ayahnya meninggal dunia karena wabah penyakit menular yang sama.

Di masa remaja, Angela mengalami kesedihan yang luar biasa karena kehilangan orang-orang yang ia cintai: mula-mula kakak perempuannya, lalu ibu dan ayahnya berturut-turut meninggal terkena wabah penyakit yang sama. Sejak saat itu Angela sering berdoa untuk kedamaian arwah kakaknya. Dalam teks doa St.Angela kita temukan rumusan doanya, “... Sudilah juga mengampuni dosa-dosa ayah dan ibuku, saudara-saudara dan kawan-kawanku, dan dosa-dosa seluruh dunia”(R 5, 24). Ia sangat khawatir kakaknya belum bahagia di surga. Ia minta suatu tanda agar Tuhan memberitahukan kepadanya di mana kakaknya berada.

Sepeninggal kedua orang tuanya, Angela pindah dari Le Greeze ke rumah paman Biancosi, saudara ibunya di Salo. Dari kehidupan yang sederhana di Desenzano, ia pindah ke lingkungan serba mewah di Salo. Namun demikian, Angela tidak mabuk dengan segala fasilitas hidup yang mewah itu. Sebaliknya, ia malahan melawan arus dengan banyak bekerja, berdoa, berpuasa, mati raga (mencuci rambut pirangnya dengan abu). Kata Angela,”Doa adalah baik disertai puasa” (R 5, 2). Ia belajar bergaul dengan macam-macam orang, yang sederhana maupun kaum bangsawan. Angela bergabung dengan Ordo Ketiga St.Fransiskus Asisi, sebuah organisasi yang memungkinkan kaum awam untuk merasul dan menerima komuni setiap hari. Ia dikenal sebagai SUOR ANZOLA .

Tidak diketahui kapan persisnya Angela kembali ke Le Greeze. Tidak ada yang istimewa dari periode kedua kehidupan Angela di Desenzano. Ia hidup sebagai petani. Ia mengunjungi orang sakit, memberi nasihat, menghibur, dan menguatkan iman orang lain. Setiap hari ia menghadiri misa kudus dan menyambut komuni. Selama ± 20 tahun hidup tersembunyi di desanya telah:

  • melunakkan karakternya yang keras
  • meredakan temperamennya yang menggebu-gebu
  • mengurangi spontanitasnya yang tinggi ( menjadi lebih sabar)

Pada periode kedua di Desenzano, Allah menyiapkan Angela untuk menjadi pendiri Kompani St.Ursula. Tuhan mengirim tanda baginya... Suatu peristiwa yang penuh makna yaitu penampakan di Brudazzo (±1505). Pada suatu hari di musim panen, Angela tinggal sendirian di ladang. Tiba-tiba ia melihat surga terbuka di hadapannya, dan para malaikat beserta gadis-gadis muda bercahaya, turun mendekati dia. Kakaknya ada di antara mereka. Setelah penampakan itu, Angela makin mengerti bahwa Tuhan menghendakinya untuk mendirikan sebuah komunitas yang didedikasikan khusus bagi kaum perempuan...

Sebagai anggota Ordo Ketiga Fransiskan, Angela mendapat tugas untuk menemani dan menghibur seorang ibu bangsawan, Ny. Catherina Patengola, yang baru saja ditinggal mati suami dan dua putranya. Di rumah Catherina ini, Angela berkesempatan untuk bergaul dengan orang-orang yang berpengaruh di Brescia, sehingga ia mendapat informasi tentang keadaan masyarakat dan situasi sosial politik kota Brescia. Angela bertemu dengan pedagang muda, Giovan Antonio Romano dan seorang ahli pertanian, Agustino Gallo. Mereka berdua inilah yang melindungi Angela, karena emansipasi wanita belum dikenal pada masa itu.

Tahun 1517 Angela pindah dari rumah Catherina dan tinggal di rumah Antonio Romano (Via St.Agatha) selama 12 tahun. Ia bekerja sebagai pengurus rumah tangga, sambil tetap merasul, dan semakin menghayati hidup sederhana dan mati raga yang keras. Ia kerap menyangkal diri dengan cambuk. Malam hari ia tidur hanya beberapa jam saja. Sebagian besar waktunya dilewatkan untuk berdoa. Ia tidur di lantai beralaskan tikar dengan sebilah balok kayu sebagai bantal. Ia adalah vegetarian, hanya makan roti, sayur, buah dan minum air putih saja. Pagi hari ia ikut Misa Kudus di gereja dan menyambut komuni. Lalu, biasanya ia duduk berjam-jam berdoa di depan Sakramen MahaKudus. Sisa waktunya ia pakai untuk melayani tetangga-tetangganya, membimbing gadis-gadis yang terjerumus lumpur dosa. Kamar mungil Angela ramai dikunjungi orang dari pagi sampai malam. Kabar kesuciannya pun tersebar ke seluruh kota Brescia. Setelah Antonio menikah, sekitar tahun 1532, Angela pindah ke sebuah kamar di belakang gereja St.Afra.

Selama di Brescia, Angela beberapa kali berziarah:

  • 1520 berziarah ke Mantua bersama Antonio Romano, berdoa di makam Osanna Andreasi yang terberkati, seorang perempuan suci yang telah menerima stigmata.
  • 1524 berziarah ke Tanah Suci bersama Bartolomeo, sepupunya di Salo,dan Antonio Romano
  • 1525 berziarah ke Roma dan bertemu Paus Clemens VII yang me-ngundangnya untuk tinggal dan berkarya di Roma. Namun Angela memilih kembali ke Brescia, untuk mendukung para perempuan di sana agar memperoleh kebebasan menentukan hidupnya sendiri. Jika se-seorang ingin hidup lajang sebagai seorang perawan yang di-persembahkan kepada Kristus, ia harus diakui, dihargai, dan didukung ...
  • 1529 berziarah ke Varallo. Angela dikenal sebagai peziarah yang berani.

Tahun 1529 pecah perang di Brescia. Angela mengungsi ke Cremona bersama keluarga Agustino Gallo.Tahun 1530, Angela kembali ke Brescia dan tinggal di rumah Agustino Gallo, yang terletak di muka Gereja San Clemente. Selanjut-nya, Angela pindah ke San Barnaba lalu kembali ke kamar belakang gereja St.Afra sekitar tahun 1532. Tahun 1532 Angela berziarah kedua kalinya ke Varallo bersama Agustino Gallo, Ippolita adik Gallo, dan 12 orang lainnya.

Sekitar tahun 1532, kesucian St.Angela sudah mulai dikenal orang banyak. Beberapa orang mulai berkumpul dengannya, dan mulai mendiskusikan peraturan hidup atau regula. Tahun 1533, Elizabeth Pratto seorang janda bangsawan memberi satu ruangan tempat berkumpul. Tahun 1534, dalam misa di Gereja St.Barnabas, hanya beberapa menit berjalan kaki dari St.Afra, selama pembacaan Injil, Angela nampak terangkat setinggi telapak tangan dari lantai.

Tanggal 25 November 1535, pada pesta St.Catharina dari Alexandria, Angela bersama 28 gadis membubuhkan tandatangan sebagai tanda berdirinya Kompani St.Ursula. Peristiwa ini mengambil tempat di sakristi gereja St. Afra, seusai perayaan ekaristi. St.Catharina adalah perawan, mistikus dan martir dari Gereja Purba. Tahun 1536, Angela mendiktekan nasihat-nasihatnya untuk para pemimpin kompani. Tanggal 8 Agustus 1536, Regula Kompani disahkan oleh Lorenzo Muzio, Vikjen Keuskupan Brescia. Tanggal 18 Maret 1537 diadakan Kapitel I di dapur rumah Angela di gereja St.Afra. Angela dipilih sebagai PEMIMPIN UMUM.

Brescia - Urna con le spoglie di S. Angela Merici nell'omonima chiesa Geobia; CC BY-SA 3.0

Pada tanggal 27 Januari 1540 ± pk. 15.30, Angela wafat di kamarnya di dekat gereja St.Afra (kesaksian diberikan oleh Barbara Fontana, salah seorang puterinya yang tinggal bersama Angela, dan oleh Pandolfo Nassino, penulis kronik kota Brescia). Tanggal 30 April 1768: beatifikasi St.Angela oleh Paus Clemens XIII. Tanggal 24 Mei 1807 dengan bula “Aetemi Patris Sapientia” Paus Pius VII menyatakan Angela sebagai Santa Angela ke seluruh dunia.


Visi

Komunitas pembelajar yang kritis, kreatif dan inovatif dalam mengintegrasikan ilmu, iman dan nilai-nilai kemanusiaan seturut semangat Santa Angela.

Misi

Sebagai lembaga pendidikan (Institute of Education), sekolah Ursulin menyelenggarakanpendidikan yang berkualitas dan terpadu, menyiapkan peserta didik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan siap bermasyarakat.

Sebagai komunitas pembelajar (Community of Learning), sekolah Ursulin mengembangkan potensi dan keterampilan secara kritis, kreatif dan inovatif.

Sebagai sekolah Katolik (Catholic School), sekolah Ursulin menanamkan semangat Santa Angela pada setiap pribadi agar dapat mengintegrasikan ilmu, iman dan nilai-nilai kemanusiaan untuk menjawab tantangan jaman dan mewujud-nyatakan SERVIAM dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai Sekolah Ursulin Indonesia (Ursuline School in Indonesia), sekolah Ursulin menanamkan kecintaan pada budaya, bangsa dan tanah air Indonesia, dengan menghargai pluralitas budaya dan agama, serta membangun kepedulian terhadap sesama dan alam ciptaan.

Sebagai bagian dari International Ursuline, sekolah Ursulin Indonesia meningkatkan kerjasama dengan alumni dan sekolah-sekolah Ursulin, baik di Indonesia maupun tingkat internasional, khususnya di Asia Pasifik.